
Karakter Hasyim dan
Salman akan menghiasi layar selama pemutaran film ini. Cerita miris keduanya
menjadi bukti bahwa kemiskinan dan keterbelakangan yang menyayat hati
tersembunyi beberapa kilo di dekat garis perbatasan Indonesia dengan Malaysia.
Hasyim adalah seorang
mantan sukarelawan konfrontasi Malaysia, ia tinggal bersama Salman dan Salina,
kedua cucunya yang sangat dikasihi dan dicintainya. Suatu ketika anak semata
wayangnya yang juga orangtua dari Salman dan Salina yang bekerja di Malaysia
pulang dan bermaksud membawa serta ketiganya untuk ke Malaysia agar
perekonomian dan kehidupan mereka kian membaik. Namun, Hasyim menolak keras
keinginan Haris, ia marah dan kesal kepada kepada Haris, betapa mudahnya anak
semata wayangnya itu melupakan jasa Indonesia dan kejahatan Malaysia. Pada
akhirnya, Haris hanya membawa serta Salina, sementara Salman menetap bersama
kakeknya, Hasyim.
Seperti halnya
film-film lain, selalu ada saja tokoh yang mewarnai alur cerita.
Beberapa saat setelah
kepergian Haris, datanglah dokter Anwar alias dokter Intel, seorang dokter yang
kalah bersaing dengan dokter-dokter lain di kota saking kian menjamurnya
profesi dokter di perkotaan. Pertama kali ia datang, ia harus menumpang sampan
sembari membawa alat seadanya yang sekiranya diperlukan untuk merawat dan
mengobati pasien. Kemudian datang pula Astuti, guru dari kota yang mau saja
mengaja pada sekolah yang tidak menunggu lama lagi untuk roboh.
Bersamaan dengan
kedatangan keduanya, Salman akhirnya mengetahui penyakit yang diderita oleh
kakeknya. Setelah diperiksa oleh dokter Anwar ternyata kakek Salman harus
menjalani pengobatan di kota supaya sembuh. 400 ringgit harus dikeluarkan untuk
membawa kakeknya itu ke kota. Setiap hari ia bekerja keras untuk mengumpulkan ringgit
demi ringgit yang notabene merupakan mata uang Malaysia. Bagaimana bisa mata
uang lain menjadi mata uang suatu negara?
Dalam suatu cerita
pasti akan ada akhir yang menyedihkan pula, seperti halnya film ini. Setelah
mampu mengumpulkan 400 ringgit, Salman membawa kakeknya ke kota. Namun, malang
tak dikira Hasyim meninggal dalam perjalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar