Selasa, 20 Desember 2016

Tanah Surga, Katanya



Hasil gambar untuk tanah surga katanya
Karakter Hasyim dan Salman akan menghiasi layar selama pemutaran film ini. Cerita miris keduanya menjadi bukti bahwa kemiskinan dan keterbelakangan yang menyayat hati tersembunyi beberapa kilo di dekat garis perbatasan Indonesia dengan Malaysia.
Hasyim adalah seorang mantan sukarelawan konfrontasi Malaysia, ia tinggal bersama Salman dan Salina, kedua cucunya yang sangat dikasihi dan dicintainya. Suatu ketika anak semata wayangnya yang juga orangtua dari Salman dan Salina yang bekerja di Malaysia pulang dan bermaksud membawa serta ketiganya untuk ke Malaysia agar perekonomian dan kehidupan mereka kian membaik. Namun, Hasyim menolak keras keinginan Haris, ia marah dan kesal kepada kepada Haris, betapa mudahnya anak semata wayangnya itu melupakan jasa Indonesia dan kejahatan Malaysia. Pada akhirnya, Haris hanya membawa serta Salina, sementara Salman menetap bersama kakeknya, Hasyim.
Seperti halnya film-film lain, selalu ada saja tokoh yang mewarnai alur cerita.
Beberapa saat setelah kepergian Haris, datanglah dokter Anwar alias dokter Intel, seorang dokter yang kalah bersaing dengan dokter-dokter lain di kota saking kian menjamurnya profesi dokter di perkotaan. Pertama kali ia datang, ia harus menumpang sampan sembari membawa alat seadanya yang sekiranya diperlukan untuk merawat dan mengobati pasien. Kemudian datang pula Astuti, guru dari kota yang mau saja mengaja pada sekolah yang tidak menunggu lama lagi untuk roboh.
Bersamaan dengan kedatangan keduanya, Salman akhirnya mengetahui penyakit yang diderita oleh kakeknya. Setelah diperiksa oleh dokter Anwar ternyata kakek Salman harus menjalani pengobatan di kota supaya sembuh. 400 ringgit harus dikeluarkan untuk membawa kakeknya itu ke kota. Setiap hari ia bekerja keras untuk mengumpulkan ringgit demi ringgit yang notabene merupakan mata uang Malaysia. Bagaimana bisa mata uang lain menjadi mata uang suatu negara?
Dalam suatu cerita pasti akan ada akhir yang menyedihkan pula, seperti halnya film ini. Setelah mampu mengumpulkan 400 ringgit, Salman membawa kakeknya ke kota. Namun, malang tak dikira Hasyim meninggal dalam perjalanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar