![]() |
Lucu? Ya, judul film di
atas menceminkan realita negeri kita, segala sesuatu berbanding terbalik dengan
nilai dan norma yang ada.
Film ini menceritakan
seorang lulusan S1 yang menganggur hingga dua tahun, zaman sekarang sudah biasa
kalau ada sarjana pengangguran, bahkan jumlahnya terus meningkat seiring
bertambahnya usia bangsa dan jumlah rakyatnya. Muluk, lulusan S1 pengangguran ini,
bisa dibilang tidak buruk juga, tapi keberuntungan seseorang memang memegang
peran utama. Sudah berkali-kali ia melamar kerja tapi tidak ada hasilnya,
padahal calonnya sudah menanti untuk dipersunting, namun orangtua gadis ini
lebih menyukai orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap sehingga bisa membuat
anak gadisnya “adem ayem”. Apa daya lulusan sarjana tanpa pekerjaan, nganggur
dua tahun, saingannya politisi berduit pula. Miris.
Entah kebetulan atau
memang takdir si Muluk ini secara kebetulan menyaksikan pencopetan yang
dilakukan Komet, anak kucel dengan tampang pas-pasan. Saat itu Komet bersama
kawan sesama pencopet bekerja sama dalam memuluskan aksi pencopetan mereka, ada
yang menjadi eksekutor, adapula yang menjadi penghilang bukti. Melihat
kelihaian mereka Muluk menjadi tergerak untuk mewujudkan suatu usaha yang
dimodali oleh para pencopet itu. Ditambahlagi cacing-cacing hasil usaha Muluk
sebelumnya tidak membuahkan hasil sama sekali. Dengan bantuan Komet, ia bertemu
dengan Jarot, bos besar yang memimpin anak-anak pencopet. Dengan kelihaian
hasil sertifikat sarjananya di bidang ekonomi dan bisnis ia berhasil meyakinkan
Jarot untuk menjadikan hasil copet sebagai modal usaha baru berupa ojek dan
asongan. Bahkan melalui pembagian uang hasil usaha itu, para pencopet cilik
tersebut berhasil menabung hingga jutaan rupiah, Muluk juga berhasil membeli
motor yang nantinya digunakan untuk transportasi sehari-hari. Bahkan melalui
uang usahanya ia bisa menggaji Samsul, lulusan guru yang setiap harinya Cuma main
gaplek, dan juga pipit, anak Haji Rahmat yang sehari-hari mencari peruntungan
melalui kuis di televisi. Pipit mengajarkan doa sehari-hari dan cara beribadah,
sedangkan Samsul mengajarkan pelajaran dasar seperi membaca dan berhitung.
Waktu memang pasti dan
akan menyingkap segalanya.
Singkat cerita pada
akhirnya Haji Makbul, ayah Muluk, dan Haji Rahmat akhirnya mengetahui perihal
apa yang dilakukan ketiga orang berbeda latar belakang itu. Orangtua mana yang
menginginkan anaknya hidup dari uang hasil mencopet? Tidak ada. Begitupula Haji
Makbul dan Haji Rahmat yang sudah bertitel “haji” yang pengetahuan agamanya
sudah setinggi monas. Bersamaan dengan itu Muluk membagikan 6 set peralatan
mengasong. Setelah kedua haji itu mengetahui jelas sudah air mata keduanya bakal
mengalir, entah di luar maupun di dalam. Muluk dilema berat melihat orangtuanya
kecewa dengan apa yang dilakukannya, ia memutuskan untuk berhenti dan menyerah
dengan segala usaha yang baru saja digeluti olehnya. Samsul berusaha meyakinkan
Muluk untuk kembali mendidik anak-anak pencopet itu, namun apadaya, orangtua
dan tatakrama menjadi alasan terberat untuk kembali pada Jarot dan anak
anaknya. Pada akhirnya segalanya memang kembali seperti semula, yang membedakan
yaiu anak-anak pencopet asuhan Muluk dkk mulai meninggalkan dunia copet, mereka
mulai mengasong untuk memperoleh rezeki halal. Namun, suatu saat ketika mereka
mengasong, Satpol PP datang dan mengejar para pengasong cilik itu. Muluk yang
berada di sana dengan semangat ’45 berusaha menghalangi kejaran Satpol PP.
Selesai sudah film ini,
kalau kita telusuri dari awal sampai akhir jelas kalau film ini sama sekali
tidak lucu. Lulusan sarjana kok menganggur? Lulusan sarjana kok dapat uang dari
hasil mencopet? Lulusan sarjana kok punya pikiran mengubah seorang pencopet?
Lulusan sarjana kok berani melawan Satpol PP buat anak-anak pengasong? Aneh.
Lebih aneh lagi,
koruptor kok dilindungi oleh hukum? Koruptor kok seenaknya keluar masuk
penjara? Koruptor kok liburan nonton tenis? Koruptor kok malah semakin kaya?
Koruptor kok tidak dimusnahkan saja? Aneh bin ajaib ya.
Indonesia ini
benar-benar ajaib. Bahkan saking ajaibnya kita Cuma bisa tertawa...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar